Day 6: Gagal di Hal yang Sudah Terlanjur Kita Ceritakan ke Banyak Orang
Selamat Hari Selasa ceriaa!
Ada satu fase hidup di mana kita terlalu percaya diri. Saking yakinnya, kita sudah keburu cerita ke banyak orang:
“InsyaAllah jalan.”
“Doain ya.”
“Kayaknya kali ini berhasil.”
Lalu hidup datang membawa kabar yang sangat singkat dan tidak bertele-tele:
“Tidak.”
"Kamu belum/tidak pantas mendapatkannya."
Kabar buruknya, gagal itu menyakitkan. Jelas, apalagi pada hal yang sudah kita perjuangkan lama.
Lebih menyakitkan lagi ketika kegagalan itu datang setelah kita menaruh harapan, tenaga, waktu, dan sedikit gengsi. Bukan cuma rencana yang runtuh, tapi juga kepercayaan diri yang ikut retak.
Dan setelahnya, ada fase paling tidak enak: menjelaskan. Menjelaskan kenapa tidak jadi. Menjelaskan kenapa gagal. Atau pura-pura kuat dengan kalimat klasik, “Nggak apa-apa kok,” padahal hati sedang penuh sisa kecewa.
Namun, kabar baiknya, kegagalan sering kali bukan penolakan terhadap diri kita, melainkan penundaan arah. Dalam buku Failing Forward, John C. Maxwell menulis bahwa perbedaan orang yang bertumbuh dan yang berhenti bukan pada jumlah kegagalannya, tapi pada keberanian untuk belajar darinya.
Gagal membuat kita berhenti sebentar dan bertanya:
"apakah ini memang jalanku, atau aku hanya terlalu keras memaksa?"
Dan pertanyaan itu, meski tidak nyaman, sering kali menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar di depan.
Tidak semua hal yang kita inginkan pantas kita dapatkan saat itu. Dan tidak semua kegagalan datang untuk mempermalukan. Sebagian hanya ingin mengarahkan ulang langkah kita.
Kita boleh kecewa. Boleh sedih. Boleh menarik napas lebih panjang dari biasanya.
Tapi kita tidak harus berhenti.
Mungkin itu kabar buruk jika kita gagal di hal yang sangat kita inginkan.
Tapi kabar baiknya, hidup masih memberi kita kesempatan untuk mencoba dengan cara yang lebih tepat, lebih baik, dan lebih 'enjoy'.
So, good luck and have a nice day!

0 Komentar