Day 4: Pendengar yang Lupa Didengarkan
#30HariBercerita
20260104
Selamat Hari Minggu!
Ada satu tipe orang yang selalu dihubungi saat jam sudah lewat tengah malam.
Bukan karena dia security atau customer service Shopee.
Kalimat pembukanya hampir selalu sama:
“Boleh cerita nggak?”
Dan entah kenapa, kita hampir selalu menjawab:
“Boleh.”
Kabar buruknya, menjadi tempat cerita semua orang itu melelahkan. Kita mendengar masalah orang lain sambil menyimpan masalah sendiri. Menjadi penenang di tengah badai orang lain, tapi lupa kapan terakhir kali diri sendiri ditenangkan. Lucunya, kita sering tahu solusi hidup orang lain dengan sangat jelas, sementara hidup kita sendiri masih loading. Bahkan kita tidak tahu apa masalah kita.
Kadang kita ingin berkata, “Aku capek.”. Tapi takut dibilang egois. Takut dibilang berubah.
Padahal mungkin kita cuma sedang butuh giliran.
Namun, kabar baiknya, tidak semua orang dipercaya untuk mendengar cerita. Dalam buku The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, ada gagasan bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang tidak memaksa kita mengorbankan diri terus-menerus, tapi juga tidak menutup empati. Dan dipercaya sebagai pendengar sering kali berarti: kita dianggap aman.
Menjadi tempat cerita bukan berarti kita harus selalu kuat. Bukan berarti kita tidak boleh lelah. Justru dari situ kita belajar satu hal penting: empati tanpa batas akan berubah menjadi beban.
Dan mungkin, lelah ini bukan tanda kita harus berhenti peduli, melainkan tanda bahwa kita perlu belajar memberi batas. Belajar berkata, “Aku dengar, tapi hari ini aku juga sedang berjuang.”
Karena menjadi manusia bukan soal selalu tersedia, tapi tahu kapan harus menjaga diri.
Capek itu wajar. Diam sebentar itu perlu.
Dan memilih diri sendiri, merupakan prioritas kamu sekarang.
Mungkin itu kabar buruk, seperti lelah menjadi tempat cerita semua orang.
Tapi kabar baiknya, kita dipercaya. Dan sekarang, kita juga boleh belajar percaya pada diri sendiri.
So, good luck and have a nice day!

0 Komentar