Day 2: Masa Depan Datang Lebih Cepat
Selamat Hari Jumat, semuanya!
Bagaimana jika ketika kamu sedang duduk manis di kelas, di mana pada saat itu guru kamu sedang bertanya "Siapa di sini yang mau maju ke depan kelas untuk menjawab soal di papan tulis?". Kamu diam. Pikiranmu sedang menerka-nerka jawabannya, karena memang kamu tidak tahu apa jawabannya. Ketika pikiranmu kosong karena lebih memilih diam dan pura-pura mikir, tetapi ternyata Pak Guru malah menunjuk ke kamu "Hei, kamu yang lagi bengong. Ayo maju depan!" sambil menyodorkan spidol hitam di depan mukamu.
Wajahmu bingung, jantungmu berdetak lebih cepat hingga kamu tak mampu mengontrolnya. Pikiranmu mencari cara atas situasi dan kondisi ini. Pada momen ini, hatimu ingin berteriak tidak siap, namun naasnya... kamu terlanjur mengambil spidol hitam itu dari tangan Pak Guru.
Kabar buruknya, banyak hal penting dalam hidup datang lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Tanggung jawab, keputusan besar, peran baru; semuanya muncul sebelum kita selesai menyiapkan mental. Kita bahkan belum sempat bilang, “Bentar ya,” hidup sudah keburu duduk manis di ruang tamu. Udah keburu nagih kamu. Bahkan, kemanapun kamu bersembunyi, kegelapan itu selalu ada dan selalu muncul. Semakin kamu bersembunyi di cahaya seterang apapun, kegelapan itu selalu mengikutimu, termasuk di dirimu sendiri.
Rasanya seperti disuruh presentasi tanpa dikasih waktu buka slide. Atau tiba-tiba jadi admin grup, padahal niat awal cuma mau jadi pembaca pasif aja.
Namun, kabar baiknya, kesiapan sering kali bukan syarat utama untuk bertumbuh. Ia justru lahir setelah kita terjun, bukan sebelumnya.
Dalam bukunya Atomic Habits, James Clear menyinggung bahwa perubahan besar sering kali bukan soal momen epik, melainkan keputusan kecil yang diulang saat kita tidak sepenuhnya siap. Dan hidup? Ia ahli sekali memaksa kita mengambil keputusan kecil itu, meski tangan masih gemetar. Meski mata masih sembab, meski hidung masih sulit mengambil oksigen karena terhambat oleh ingus akibat tangisan semalam.
Kita sering berpikir bahwa usia atau waktu tertentu adalah tanda “boleh” untuk melangkah. Padahal hidup tidak pernah benar-benar menunggu izin. Ia hanya melihat satu hal: apakah kita mau belajar sambil berjalan, atau berhenti karena takut tersandung.
Dan lucunya, banyak dari hal yang awalnya kita keluhkan:
“kok sekarang sih?”
“kenapa cepat banget?”
.....justru kelak menjadi fase yang paling membentuk cara berpikir kita.
Datang terlalu cepat memang melelahkan. Tapi datang terlambat sering kali lebih menyakitkan. Mungkin hidup tidak memberi kita waktu untuk siap. Tapi ia memberi kita kesempatan untuk tumbuh.
Mungkin itu kabar buruk.
Tapi kabar baiknya, kita ternyata mampu belajar sambil berjalan, meski awalnya sambil tertatih-tatih.
So, good luck and have a nice day!

0 Komentar