Day 12: Sudah Menjelaskan, Tapi Tetap Tidak Dimengerti

 


#30HariBercerita
20260112

Selamat merayakan Hari Senin dengan apel pagi!

Ada momen ketika kita merasa sudah bicara dengan sangat jelas. Kata-kata sudah dipilih hati-hati.
Nada sudah dijaga. Bahkan mungkin sudah diulang beberapa kali dengan versi yang berbeda.
Tapi entah kenapa, yang sampai tetap saja melenceng. Jadilah missconcept.

Kabar buruknya, tidak dimengerti itu melelahkan. Bukan karena kita ingin selalu dibenarkan, tapi karena ada usaha yang tidak pernah benar-benar sampai.
Dan di titik itu, kita mulai bertanya-tanya:
“Kurang jelas di mana, ya?”
Atau lebih menyakitkan lagi:
“Apakah perasaanku memang sepenting itu?”

Kadang, kita terlalu sibuk menjelaskan sampai lupa mendengarkan diri sendiri. Menyesuaikan cerita agar bisa diterima. Bahkan mengurangi rasa agar tidak dianggap berlebihan. Sampai akhirnya, kita sendiri tidak lagi yakin apa yang sebenarnya kita rasakan.

Namun, kabar baiknya, tidak semua perasaan butuh persetujuan untuk menjadi valid.
Dalam buku Emotional Agility karya Susan David, dijelaskan bahwa kejujuran pada emosi adalah fondasi kesehatan mental, bukan tentang meluapkan segalanya, tapi mengakui apa yang benar-benar kita rasakan tanpa menghakimi diri sendiri.

Belajar jujur pada perasaan sendiri kadang berarti berhenti menjelaskan. Bukan karena menyerah, tapi karena kita sadar: jika tidak semua orang siap memahami dari sudut pandang kita.

Dan itu tidak apa-apa.

Ketika kita berhenti memaksa untuk dimengerti, kita mulai berdamai dengan diri sendiri. Kita memberi ruang pada emosi untuk ada, tanpa harus dibenarkan oleh siapa pun.
Dan dari situ, justru 'perasaan lega' pelan-pelan datang.

Mungkin itu kabar buruk jika kita tidak dimengerti meski sudah menjelaskan.
Tapi kabar baiknya, kita belajar jujur dan setia pada perasaan sendiri.

0 Komentar

Gocicil Tokopedia
Finologi Ads